Hari entah keberapa kamu tidak berkabar
Entah kamu ditelan ikan paus di lautan di kawasan segitiga bermuda atau sedang terpenjara di neraka dikelilingi api sehingga kamu tidak dapat meraih handphone mu yang disita penjaga.
Aku hari ini ditelpon oleh seorang sahabat yang mendukung psikologisku karena hal yang harus aku lakukan di malam tahun baru kemarin. Kamu pasti tahu itu apa.
Ternyata dia juga mengalami hal sama.
Aku terpaksa memberitahunya hal yang harus dilakukan untuk itu dan rasanya duniaku berputar.
Pahit rasanya Ri....
HARI-HARI DENGAN ARI
Minggu, 05 Januari 2014
Jumat, 03 Januari 2014
Cinta itu penyakit
Selesai.
Semua benang merah dari kebingunganku tentang kamu jelas terlihat di depan mata.
Seseorang bilang kamu sudah merencanakan pernikahan dengan seseorang bernama Rini.
Jadi Rini adalah mantan yang kau pacari lagi sekarang.
Entah ini ada kaitan dengan hutangmu atau kau menemukan cintamu kembali karena restu sudah ada di tanganmu.
Entah ini ada hubungan dengan ibu yang meninggal itu atau apa.
Entah yang mana.
Tapi semuanya sudah terbongkar, bersama kebohonganmu yang lain.
Yang aku tahu semua dari orang lain yang melihat sendiri.
Sampai temanmu bilang "Mana ada maling ngaku maling put...."
Aku tidak punya ide lagi untuk menulis disini.
Satu bulan pencarian tentang hatimu selesai sudah, begitu pula jawaban tentang kenapa selalu aku yang salah. Kenapa selalu aku yang kau bilang tidak serius.
Kenapa kau memaksakan semuanya.
Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada diriku jika aku di posisimu.
Aku juga pernah di posisi yang salah, yang menyakiti orang sampai ke tulang-tulang.
Dan pernah disakiti sampai ke tulang-tulang, seperti sekarang.
Empat bulan yang tidak mungkin bisa aku lupakan seumur hidup karea kita pernah mengalami hal yang paling jahat yang pernah manusia lakukan.
Empat bulan yang sakit.
Cinta itu penyakit.
Semua benang merah dari kebingunganku tentang kamu jelas terlihat di depan mata.
Seseorang bilang kamu sudah merencanakan pernikahan dengan seseorang bernama Rini.
Jadi Rini adalah mantan yang kau pacari lagi sekarang.
Entah ini ada kaitan dengan hutangmu atau kau menemukan cintamu kembali karena restu sudah ada di tanganmu.
Entah ini ada hubungan dengan ibu yang meninggal itu atau apa.
Entah yang mana.
Tapi semuanya sudah terbongkar, bersama kebohonganmu yang lain.
Yang aku tahu semua dari orang lain yang melihat sendiri.
Sampai temanmu bilang "Mana ada maling ngaku maling put...."
Aku tidak punya ide lagi untuk menulis disini.
Satu bulan pencarian tentang hatimu selesai sudah, begitu pula jawaban tentang kenapa selalu aku yang salah. Kenapa selalu aku yang kau bilang tidak serius.
Kenapa kau memaksakan semuanya.
Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada diriku jika aku di posisimu.
Aku juga pernah di posisi yang salah, yang menyakiti orang sampai ke tulang-tulang.
Dan pernah disakiti sampai ke tulang-tulang, seperti sekarang.
Empat bulan yang tidak mungkin bisa aku lupakan seumur hidup karea kita pernah mengalami hal yang paling jahat yang pernah manusia lakukan.
Empat bulan yang sakit.
Cinta itu penyakit.
Sabtu, 21 Desember 2013
Pil dan Tuhan
Kemarin, baru saja kemarin, aku melihat berita tentang Libanon.
Berita itu menceritakan tentang bagaimana perang terus saja terjadi.
Banyak sekali granat dijatuhkan di rumah orang-orang. Banyak juga peluru dilontarkan tak bertujuan. Banyak yang mati dan ketakutan.
Terutama para perempuan yang menunggu pulang suaminya yang sedang bekerja, dan menunggui bayinya di rumah, sambil menerka, menebak apakah dentuman bom itu akan jatuh pada mereka atau tetangga di desa sebelah.
Lalu mereka menangis, mengambil wudhu, salat, berpasrah pada Allah.
Perempuan-perempuan itu tidak pernah dapat tidur. Detak jantung mereka mungkin sama seperti suara peluru yang jauh dari rumahnya.
Tidak bisa tidur hngga pagi, membuat mereka menelan pil penenang.
Berpasrah, lalu menelan pil, dan mengulangi hal sama setiap hari.
Berpasrah, menelan pil.
Selama bertahun-tahun.
Mereka terpenjara dalam satu negara, tak bisa bergerak, mungkin hingga habis nyawa.
Mungkin muncul pertanyaan di benak perempuan2 itu.
Negaraku apa salahnya? Aku kenapa terlahir disini? Kenapa aku harus dibunuh pelan-pelan dengan cara ini?
Kenapa aku tidak bisa keluar dari sini?
Apa itu dosa?
Jika itu tidak menyakiti diri sendiri, jika dengan berpasrah dan minum pil tidak membuat anak dan suami terlantar apa dosa?
Aku melihat sebuah gambar di dp bbm.
Tulisannya begini.
"God has deposited love, joy, prosperity, peace, laughter plus all kinds of blessings in your ATM account. Use without limit. The pin code is P.R.A.Y.E.R"
Apakah boleh disertakan sebuah pil untuk tidur, jika jantung masih berdebar kencang karena kuatir?
Seperti satu bulan ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga semua jadi berubah, terutama untuk telpon yang sering tidak diangkat selama berjam-jam. Di hari kerja ataupun tidak.
Asumsi kemudian muncul.
Dugaan lalu pertanyaan.
Kenapa?
Apa kau muak? Apayang kau ingin waktu dengan yang lain?
Apa kau ingin main-main?
Kenapa kau tidak main-main dengan orang lain saja bukan aku?
Kenapa kau tidak pernah mau melepaskan aku?
Kenapa aku disimpan di sisimu dan kau buat berasumsi dan sering tidak dihiraukan?
Siang ini aku coba berdoa, melepaskanmu pada Allah, menitipkan diriku supaya dijaga.
Karena aku merasa tidak punya jawaban.
Karena sejak sebulan lalu hari-hari tenang tidak pernah ada.
Pilihanku pil tidur.
Aku akan membiarkanmu sampai pagi tanpa mengganggu.
Esoknya kejadian akan berulang, lalu pil tidur lain tertelan lagi.
Sampai aku menemukan jawaban atau sampai aku cukup kuat untuk menerima diriku jadi orang yang dibiarkan atau sampai aku kuat untuk pergi begitu saja.
Entah.
Tapi hatiku tidak pernah setenang saat aku sendirian.
Aku bahagia sekaligus takut.
Berita itu menceritakan tentang bagaimana perang terus saja terjadi.
Banyak sekali granat dijatuhkan di rumah orang-orang. Banyak juga peluru dilontarkan tak bertujuan. Banyak yang mati dan ketakutan.
Terutama para perempuan yang menunggu pulang suaminya yang sedang bekerja, dan menunggui bayinya di rumah, sambil menerka, menebak apakah dentuman bom itu akan jatuh pada mereka atau tetangga di desa sebelah.
Lalu mereka menangis, mengambil wudhu, salat, berpasrah pada Allah.
Perempuan-perempuan itu tidak pernah dapat tidur. Detak jantung mereka mungkin sama seperti suara peluru yang jauh dari rumahnya.
Tidak bisa tidur hngga pagi, membuat mereka menelan pil penenang.
Berpasrah, lalu menelan pil, dan mengulangi hal sama setiap hari.
Berpasrah, menelan pil.
Selama bertahun-tahun.
Mereka terpenjara dalam satu negara, tak bisa bergerak, mungkin hingga habis nyawa.
Mungkin muncul pertanyaan di benak perempuan2 itu.
Negaraku apa salahnya? Aku kenapa terlahir disini? Kenapa aku harus dibunuh pelan-pelan dengan cara ini?
Kenapa aku tidak bisa keluar dari sini?
Apa itu dosa?
Jika itu tidak menyakiti diri sendiri, jika dengan berpasrah dan minum pil tidak membuat anak dan suami terlantar apa dosa?
Aku melihat sebuah gambar di dp bbm.
Tulisannya begini.
"God has deposited love, joy, prosperity, peace, laughter plus all kinds of blessings in your ATM account. Use without limit. The pin code is P.R.A.Y.E.R"
Apakah boleh disertakan sebuah pil untuk tidur, jika jantung masih berdebar kencang karena kuatir?
Seperti satu bulan ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga semua jadi berubah, terutama untuk telpon yang sering tidak diangkat selama berjam-jam. Di hari kerja ataupun tidak.
Asumsi kemudian muncul.
Dugaan lalu pertanyaan.
Kenapa?
Apa kau muak? Apayang kau ingin waktu dengan yang lain?
Apa kau ingin main-main?
Kenapa kau tidak main-main dengan orang lain saja bukan aku?
Kenapa kau tidak pernah mau melepaskan aku?
Kenapa aku disimpan di sisimu dan kau buat berasumsi dan sering tidak dihiraukan?
Siang ini aku coba berdoa, melepaskanmu pada Allah, menitipkan diriku supaya dijaga.
Karena aku merasa tidak punya jawaban.
Karena sejak sebulan lalu hari-hari tenang tidak pernah ada.
Pilihanku pil tidur.
Aku akan membiarkanmu sampai pagi tanpa mengganggu.
Esoknya kejadian akan berulang, lalu pil tidur lain tertelan lagi.
Sampai aku menemukan jawaban atau sampai aku cukup kuat untuk menerima diriku jadi orang yang dibiarkan atau sampai aku kuat untuk pergi begitu saja.
Entah.
Tapi hatiku tidak pernah setenang saat aku sendirian.
Aku bahagia sekaligus takut.
Langganan:
Postingan (Atom)