Kemarin, baru saja kemarin, aku melihat berita tentang Libanon.
Berita itu menceritakan tentang bagaimana perang terus saja terjadi.
Banyak sekali granat dijatuhkan di rumah orang-orang. Banyak juga peluru dilontarkan tak bertujuan. Banyak yang mati dan ketakutan.
Terutama para perempuan yang menunggu pulang suaminya yang sedang bekerja, dan menunggui bayinya di rumah, sambil menerka, menebak apakah dentuman bom itu akan jatuh pada mereka atau tetangga di desa sebelah.
Lalu mereka menangis, mengambil wudhu, salat, berpasrah pada Allah.
Perempuan-perempuan itu tidak pernah dapat tidur. Detak jantung mereka mungkin sama seperti suara peluru yang jauh dari rumahnya.
Tidak bisa tidur hngga pagi, membuat mereka menelan pil penenang.
Berpasrah, lalu menelan pil, dan mengulangi hal sama setiap hari.
Berpasrah, menelan pil.
Selama bertahun-tahun.
Mereka terpenjara dalam satu negara, tak bisa bergerak, mungkin hingga habis nyawa.
Mungkin muncul pertanyaan di benak perempuan2 itu.
Negaraku apa salahnya? Aku kenapa terlahir disini? Kenapa aku harus dibunuh pelan-pelan dengan cara ini?
Kenapa aku tidak bisa keluar dari sini?
Apa itu dosa?
Jika itu tidak menyakiti diri sendiri, jika dengan berpasrah dan minum pil tidak membuat anak dan suami terlantar apa dosa?
Aku melihat sebuah gambar di dp bbm.
Tulisannya begini.
"God has deposited love, joy, prosperity, peace, laughter plus all kinds of blessings in your ATM account. Use without limit. The pin code is P.R.A.Y.E.R"
Apakah boleh disertakan sebuah pil untuk tidur, jika jantung masih berdebar kencang karena kuatir?
Seperti satu bulan ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga semua jadi berubah, terutama untuk telpon yang sering tidak diangkat selama berjam-jam. Di hari kerja ataupun tidak.
Asumsi kemudian muncul.
Dugaan lalu pertanyaan.
Kenapa?
Apa kau muak? Apayang kau ingin waktu dengan yang lain?
Apa kau ingin main-main?
Kenapa kau tidak main-main dengan orang lain saja bukan aku?
Kenapa kau tidak pernah mau melepaskan aku?
Kenapa aku disimpan di sisimu dan kau buat berasumsi dan sering tidak dihiraukan?
Siang ini aku coba berdoa, melepaskanmu pada Allah, menitipkan diriku supaya dijaga.
Karena aku merasa tidak punya jawaban.
Karena sejak sebulan lalu hari-hari tenang tidak pernah ada.
Pilihanku pil tidur.
Aku akan membiarkanmu sampai pagi tanpa mengganggu.
Esoknya kejadian akan berulang, lalu pil tidur lain tertelan lagi.
Sampai aku menemukan jawaban atau sampai aku cukup kuat untuk menerima diriku jadi orang yang dibiarkan atau sampai aku kuat untuk pergi begitu saja.
Entah.
Tapi hatiku tidak pernah setenang saat aku sendirian.
Aku bahagia sekaligus takut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar